Selamat Datang di Blog Kami. Blog ini meyediakan berbagai macam informasi seputar Pendidikan, Karya Tulis Ilmiah,Dan lain-lain. Membangun Indonesia Melalui Pendidikan

Makalah Biografi K.H. Ahmad Dahlan serta Pemikirannya terhadap Pendidikan (Makalah Lengkap)

Untuk Mendapatkan File Makalah atau Artikel dibawah ini, Silahkan Klik Download! download



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Dalam  sejarah islam, pendidikan Islam ada sejak pertama kali islam diturunkan. Ketika Rasulullah Saw mendapat perintah untuk menyebarkan agama islam, maka yang dilakukan adalah masuk kategori pendidikan karena kepribadian Rasulullah mencerminkan wujud ideal islam, seorang guru dan pendidik. Pada masa modern, sejarah peradaban islam ditandai dengan munculnya berbagai pemikiran modern atau lebih dikenal dengan pemikiran pembaharuan Islam.
Pada masa modern dalam sejarah peradaban islam ditandai dengan munculnya berbagai pemikiran modern atau lebih dikenal dengan pembaharuan Islam. Respon tersebut dilakukan oleh para pembaru Islam sebagai reaksi umat Islam terhadap kondisi syari’at islam yang telah terpuruk jauh, sampai pada pengalaman hal-hal yang berhubungan dengan takhayul, khurafat, dan bid’ah.
Sebenarnya munculnya pemikiran modern atau pembaharuan Islam bukan pada abad ke-18, akan tetapi pada abad ke-15 itu sudah ada pemikiran pembaharu Islam besar Ibnu Taimiyah sudah menjadi rujukan banyak ulama’ Islam pada saat itu, mungkin karena belum ada gerakan yang menfasilitasi pemikran  Ibnu Taimiyah. Pemikiran secara formal muncul pada abad ke-18 ketika Muhammad bin Wahab dari wilayah Najed pada awal abad ke-18 mendirikan Gerakan Wahabiyah atau Gerakan Muhawiddin. Pada saat itu dalam sejarah dikenal dengan periode  pembaharu Islam atau periode modern. Tokoh yang terkenal diantaranya; Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan sebagainya.                                                      Kebangkitan pemikiran dalam dunia Islam baru muncul pada abad ke-19 yang dipelopori oleh Sayyid Jamaluddin al-Afghani di Afrika, Muhammad Abduh di mesir. Kedua tokoh ini di bawa oleh pelajar Indonesia di Timur Tengah seperti K.H. Ahmad Dahlan. Beliau berbekal Ilmu agama yang ia kuasai dan ide-ide pembaru dari Timur Tengah, K.H. Ahmad Dahlan mencoba menerapkannya di bumi Nusantara.
K.H.Ahmad Dahlan adalah tokoh yang paling bersemangat dalam melakukan pembaharuan bagi dunia Islam. Ahmad Dahlan sebagai tokoh  pendiri organisasi Muhammadiyah yang sangat bijaksana dan patut diteladani, karena  beliau banyak berjuang untuk mengubah kebiasaan masyrakat khususnya daerah Yogyakarta, yang pada saat itulah beliau berupaya secara strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan.
Beliau memiliki peran besar dalam mengembangkan pendidikan Islam dengan pendekatan-pendekatan yang lebih modern. Ia melihat banyaknya pengalaman keislaman masyarakat yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadis.

A.    Rumusan Masalah
       1.      Bagaimana biografi K.H. Ahmad Dahlan?
       2.      Bagaimana pemikiran pendidikan K.H. Ahmad Dahlan?

B.     Tujuan Masalah
       1.      Untuk mengetahui biografi K.H. Ahmad Dahlan
       2.      Untuk mengetahui pemikiran pendidikan K.H. Ahmad Dahlan

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Biografi K.H. Ahmad Dahlan
Nama lengkap Ahmad Dahlan yaitu Muhammad Darwis bin K.H. Abu Bakar Bin Kiai Sulaiman, beliau akrab dipanggil dengan sebutan Ahmad Dahlan, beliau lahir pada tahun 1869 M di Kauman, Yogyakarta. Ahmad Dahlan lahir di lingkungan keluarga yang berpendidikan agama dan hidup sederhana, beliau adalah tokoh pendiri organisasi Muhammadiyah.  Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar bin K.H. Sulaiman, yaitu seorang Khatib di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta, Darwis hidup dalam lingkungan yang tenteram dan masyarakat yang sejahtera.  Ibunya bernama Siti Aminah binti K.H. Ibrahim seorang penghulu kesultanan di Yogyakarta.
Dalam silsilah keturunannya Darwis termasuk keturunan ke-12 dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali terkemuka diantara Wali Songo yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa. Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan) bin K.H. Abu Bakar bin K.H. Muhammad Sulaiman bin Kiai Murtadha bin Kiai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim.[1] Pada saat itu Ahmad Dahlan tidak belajar  di sekolah formal,hal ini karena sikap orang-orang Islam pada waktu itu yang melarang anak-anaknya memasuki sekolah gurnamen.
Masa pendidikan Ahmad Dahlan,Semasa kecilnya Ahmad Dahlan diasuh dan dididik mengaji oleh ayahnya sendiri. Kemudian, ia meneruskan pelajaran mengaji mengaji tafsir dan hadis serta bahasa arab dan fiqih kepada beberapa ulama,misalnya, K.H. Muhammad Saleh, K.H. Muhsin,K.H.R. Dahlan,K.H. Mahfudz, Syaikh Khayyat Sattokh, Syaikh Amin, dan Sayyid Bakri. Dengan ketajaman intelektualitasnya yang tinggi K.H. Ahmad Dahlan selalu merasa tidak puas dengan disiplin ilmu yang telah dipelajarinya dan terus berupaya untuk lebih mendalaminya.
Sebelum berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1914 Ahmad Dahlan sempat berdiskusi dengan Syekh Ahmad Al-Syurkati pembaruan dari Sudan dan pendiri perkumpulan Al-Irsyad, Al-Syurkati memenuhi undangan Jami’ah Al-Khair untuk berceramah. Kembali pada proses lahirnya Muhammadiyah di Kauman hingga sekarang terdapat pengajian malam selasa yang terkenal yang ada sejak zaman K.H. Ahmad Dahlan, yang dahulu sering dihadiri oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Desa Kauman melahirkan empat pahlawan nasional yaitu: K.H. Ahmad Dahlan, Nyai Ahmad Dahlan, K.H. Fachruddin, dan Ki Bagus Hadikoesoemo.
Muhammadiyah lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 H/ 18 November 1912. K.H. Ahmad Dahlan adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta, khatib, sekaligus pedagang. Beliau juga perlu menanamkan tauhid kepada para pemuda agar dapat menumbuhkan iman yang teguh untuk mengamalkan agama Islam yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Riwayat pembaharuan Muhammadiyah sudah tampak sekitar tahun1906, K.H. Ahmad Dahlan menyatakan bahwa ziarah kubur itu kufur, musyrik, dan haram. Peluru yang mengenai sasaran sehingga kaum Muslim pun gempar, termasuk di kalangan ulama. Kemudian mereka melakukan pertemuan untuk membicarakan nama, tujuan organisasi, dan sosok yang bisa menjadi anggota Boedi Oetomo. K.H. Ahmad Dahlan berkata” Soal nama, saya sudah berpikir sejak lama, yaitu Muhammadiyah. Nama itu memang di ambil dari nama Nabi Muhammad Saw. Saya menggunakan nama organisasi itu sesuai nama Nabi Muhammad. Beliau berharap mudah-mudahan Muhammadiyah menjadi Jam’iyah akhir zaman,  Sebagaimana Nabi Muhammad dan Rasul akhir zaman. Penambahan kata iyah dimaksudkan agar siapa pun yang menjadi anggota Muhammadiyah bisa menyesuikan diri dengan kepribadian Nabi Muhammad Saw.
Muhammadiyah mencita-citakan masyrakat Islam yang sebenar benarnya. Dalam arsip Anggaran Dasar,”Mengembirakan dan memajukan pelajaran dan pengajaran Islam serta memajukan dan mengembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam”. Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah dengan lingkup kegiatan yang mencakup semua aspek kehidupan sosial: agama, pendidikan, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Muhammdiyah paling tidak memiliki peran dalam tiga dataran, sebagai gerakan pembaruan, sebagai agen perubahan sosial, dan sebagai kekuatan politik.Ketiga peran tersebut yang disematkan kepada Muhammadiyah merupakan keniscayaan. Sebagai gerakan pembaruan, Muhammadiyah berupaya menghadirkan pemikiran-pemikiran inovatif dan kritis. Sekaligus membawa transformasi sosial, terutama melalui modernisasi sistem pendidikan Islam.

Pada tahun 1888, ia disuruh orang tuanya menunaikan ibadah haji. Ia bermukim di mekkah selama 5 tahun untuk menuntut ilmu agama Islam, seperti qiraat, tauhid, tafsir, fiqih, tasawuf, ilmu mantik dan ilmu falak. Pada tahun 1903, ia berkesempatan kembali pergi ke mekkah untuk memperdalam ilmu agama selama3 tahun. Ia banyak belajar dengan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Di samping itu, ia tertarik pada pemikiran Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani,Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridla. Di antara kitab Tafsir yang menarik hatinya adalah Tafsir Al-Manar. Dari tafsir ini ia mendapat inspirasi dan motivasi untuk mengadakan perbaikan dan pembaruan umat Islam di Indonesia[2]. Beliau mengawali pendidikan di pangkuan ayahnya dirumah sendiri dan ia mempunyai sifat yang baik, berbudi pekerti halus, dan berhati lunak, tapi juga berhati cerdas.
Pada usia balita kedua orang tuanya Darwis sudah memberikan pendidikan Agama. Ketika berusia delapan tahun, ia sudah bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar sampai khatam. Ketika dewasa beliau mulai mengaji dan menuntut ilmu fiqih kepada K.H. Muhammad Saleh. Dia juga menuntut ilmu nahwu kepada K.H. Muhsin. Kedua guru tersebut merupakan kakak ipar sekaligus tetangganya di Kauman, dan beliau juga berguru kepada penghulu Hakim K.H. Muhammad Noor bin K.H. Fadlil dan K.H. Abdulhamid di kampung Lempuyang Wangi. Ketika berumur 18 tahun, orang tuang tuanya bermaksud menikahkannya dengan putri dari K.H. Fadlil yang bernama Siti Walidah. Setelah orang tua dari kedua belah  pihak  berunding, maka pernikahan dilangsungkan pada bulan Dzulhijjah tahun 1889 dalam suasana yang tenang.
Siti Walidah adalah anak seorang ulama yang disegani oleh masyarakat, ia pergaulannya sangat terbatas dan tidak belajar disekolah formal. Mengaji Al-Qur’an dan ilmu agama dipandang cukup pada masa itu. Beliau belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab agama berbahasa arab-jawa. (pegon) Siti Walidah adalah sosok yang sangat giat menuntut ilmu, ia hanya memperoleh pendidikan dari lingkungan keluarganya, dan ia juga mempunyai pandangan yang luas, terutama ilmu-ilmu keislaman. Setelah menikah dengan Muhammad Darwis ia merasa terpuaskan ia mengikuti segala hal yang diajarkan oleh suaminya.
Secara umum, pembaharuan Ahmad Dahlan dapat diklasifikasi pada dua dimensi, yaitu: pertama, berupaya memurnikan (purifikasi) ajaran Islam dari Khufarat, takhayul, dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat islam. Kedua, mengajak umat Islam untuk keluar dari jaring pemikiran tradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio[3]. Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan menjadi tenaga pengajar agama di kampungnya. Ia juga mengajar di sekolah negeri, seperti Kweekschool (sekolah pendidikan guru) di jetis (Yogyakarta) dan Opleiding School Voor Inlandhsche Ambtenaren (OSVIA, sekolah untuk pegawai pribumi) di magelang. Ia juga berdagang dan bertabligh[4]. Beliau juga telah melakukan berbagai kegiatan keagamaan dan dakwah.Pada tahun 1922, K.H. Ahmad Dahlan membentuk Badan Musyawarah Ulama.
Tujuan di bentuknya badan ini ialah untuk mempersatukan ulama di seluruh Hindia Belanda dan merumuskan berbagai kaidah hukum Islam sebagai pedoman pengalaman Islam, khususnya bagi warga Muhammadiyah. Badan Musyawarah ini diketuai K.H. Muhammad Chalil Kamaluddiningrat. Meskipun berbeda pendapat, beliau mendorong para pimpinan Muhammadiyah membentuk Majelis Tarjih. Majlis ini diketuai oleh Kiai Mas Mansur. Dengan tujuan dakwah ini manusia berpikir dan tertarik pada kebagusan Islam melalui pembuktian jalan kepandaian ilmu. Reformasi dan modernisasi di mata Ahmad Dahlan bukan ditujukan kepada musuh yang berada diluar, melainkan justru di kalangan internal Muhammadiyah sendiri. Sebab Muhammadiyah lebih mengutamakan aspek ibadah, akidah, syariah, akhlak, muamalah, dan bukan politik yang berada diluar Muhammadiyah.
Kegagalan dipanggung politik bukan dari akhir segalanya, warga Muhammahadiyah tetap berpegang teguh pada komitmen agama yang lebih pasti menjanjikan kesejahteraan hidup dunia dan akhirat yang tidah mungkin mampu dipenuhi oleh partai politik. Perkumpulan Muhammadiyah berusaha mengembalikan ajaran Islam kepada aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Hal ini diwujudkan melalui usaha memperluas dan mempertinggi pendidikan Islam, serta memperteguh keyakinan agama  Islam.

B.       Pemikiran Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan
 Menurut Ahmad Dahlan, upaya strategi untuk menyelamatkan umat Islam dari berfikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Mereka hendaknya dididik agar cerdas kritis, dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memetakan dinamika kehidupannya pada masa depan. Adapun kunci bagi peningkatan kemajuan umat Islam adalah dengan kembali pada Al-Qur’an dan Hadits, mengarahkan umat pada pemahaman Islam secara Komprehensif, dan menguasai bebagai disiplin ilmu pengetahuan. Upaya ini secara strategis dapat dilakukan melalui pendidikan[5]. Sejarah berdirinya suatu organisasi tidak dapat dipisahkan dari gagasan dan pikiran pendirinya, seperti NU  tidak mungkin dipisahkan dengan K.H. Hasyim Asy’ari. Demikian juga Muhammadiyah tidak mungkin dipisahkan dari K.H. Ahmad Dahlan.
Pada awal abad ke-20, tepatnya pada 08 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912. Organisasi ini dipengaruhi oleh gerakan tajdid (reformasi, pembaruan pemikiran Islam) yang digelorakan oleh Muhammad bin Abd Al-Wahhab (1703-1792) di Arab Saudi, Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935) di Mesir, dan lain-lain. Masing-masing tokoh tersebut memiliki corak pemikiran yang berbeda satu dengan yang lain. Jika Muhammad bin Abd Al-Wahhab menekankan pemurnian akidah, sehingga gerakannya lebih bersifat puritan (purifikasi), maka Muhammad Abduh lebih menekankan pemanfaatan budaya modern dan menempuh jalur pendidikan, oleh karena itu, gerakannya lebih bersifat modernis populis. Sementara Rasyid Ridha menekankan pentingnya keterikatan pada teks-teks Al-Qur’an dalam kerangka pemahaman Islam, yang dikenal dengan al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah (kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah). Oleh karena itu, gerakannya lebih bersifat skriptualis (tekstual), yang kelak menjadi akar fundamentalisme (al- Ushuliyyah) di Timur Tengah.
Sesungguhnya Dahlan telah mencoba menggugat praktik pendidikan Islam pada masanya. Pada waktu itu, pelaksanaan pendidikan hanya dipahami sebagai proses pewarisan adat dan sosialisasi perilaku individu maupun sosial yang telah meenjadi model baku dalam masyarakat. Pendidikan tidak memberikan kebebasan pada peserta didik untuk berkreasi dan mengambil prakarsa. Kondisi yang demikian menyebabkan pelaksanaan pendidikan bejalan searah dan tidak bersifat dialogis. Padahal menurut Dahlan, Pengembangan Daya Kritis, sikap dialogis, menghargai potensi akal dan hati yang suci, merupakan strategi bagi peserta didik mencapai pengetahuan tertinggi. Dari batasan ini terlihat bahwa Dahlan ingin meletakkan visi dasar bagi reformasi pendidikan Islam melalui penggabungan sistem pendidikan Modern dan tradisional secara harmonis dan integral.[6]
Pemikiran Dahlan yang demikian merupakan respon pragmatis terhadap kondisi ekonomi umat Islam yang tidak menguntungkan di Indonesia, karena berada dibawah kolonialisme Belanda. Umat Islam tertinggal secara ekonomi karena tidak memilki akses dan sektor-sektor pemerintahan atau perusahaan swasta. Situasi ini menjadi perhatian Ahmad Dahlan yang berusaha memperbaharui sistem Pendidikan Islam[7]. K.H. Ahmad Dahlan adalah sosok man of action. He ismade history his work than his word. Dahlan lebih dikenal sebagai sosok pembaru yang pragmatis. Kader-kader Muhammadiyah pun lebih memahami bahwa bermuhammadiyah adalah dengan aktif mengurusi dan mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat prasekolah hingga perguruan tinggi, panti asuhan, rumah sakit, dan amal usaha lain. Kader dan aktivis Muhammadiyah bangga jika prestasi Muhammadiyah dijadikan obyek penelitian ilmiah sarjana internasional, seperti James L Peacock, Mitsuo Nakamura, George Kahin, Robert Van Neil, Drewes, Deliar Noer, Alfian, dan A. Jainuri. Pembaruan yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan melahirkan Muhammadiyah kendati yang sering dikaitkan dengan gerakan pembaruan Islam sebelumnya di dunia Islam sebagaimana yang dipelopori Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan lain-lain, secara tipikal mereka memiliki kekhususan tertentu. Selain lebih dekat dengan pada pembaruan atau pemikiran Muhammad Abduh dari Mesir ketimbang dengan tokoh pembaru yang lainnya, pemikiran atau pembaruan Dahlan memiliki ciri khas terutama dalam gerakan mendirikan organisasi perempuan (Aisyiyah pada tahun 1917) dan gerakan amal usahanya yang melembaga sebagai aktualisasi dari spirit Al-Ma’un.

Menurut Dahlan, Pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, ’alim dalam agama, luas padndangan dan paham masalah ilmu keduniaan serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Hal ini berarti bahwa pendidikan Islam merupakan upaya pembinaan pribadi muslim sejati yang bertaqwa, baik sebagai ‘abd maupun khilafah fil al-ardh. Untuk mencapai tujuan ini, proses pendidikan Islam hendaknya mengakomodasi berbagi ilmu pengetahuan, baik umum ataupun agama, untuk mempertajam daya intelektualitas dan memperkokoh spiritualitas peserta didik. Upaya akan terealisasi manakala proses pendidikan bersifat integral. Proses pendidikan yang demikian pada gilirannya akan mampu menghasilkan alumni “intelektual ulama” yang lebih berkualitas.[8]
Adapun materi yang pendidikannya adalah pengajaran Al-Qur’an dan al-Hadits, membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi dan menggambar. Materi al-Qur’an dan al-Hadits meliputi ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan, manusia dalam menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran al-Qur’an dan al-Hadits menurut akal, kerjasama antara agama-kebudayaan-kemajuan peradaban, hukum kualitas perubahan, nafsu dan kehendak, demokratisasi dan liberalisasi, kemerdekaan berfikir, dinamika kehidupan dan peranan manusia didalamnya, dan akhlak (budi pekerti).[9]
Secara praktis, pandangan Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan dapat dilihat pada kegiatan yang dilaksanakan Muhammadiyah. Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah melanjutkan model sekolah yang digabungkan dengan sistem gubernemen, disamping itu juga dalam waktu yang singkat juga mendirikan sekolah yang lebih bersifat agama. Untuk pengajian kitab, Muhammadiyah juga segera mencarai penggatinya sesuai dengan tuntunan jaman modern, usaha tersebut dpat dianggap sebagai realisasi dari rencana sarekat Islam yang semenjak tahun 1912 bersaha mendirikan sekolah pendidikan gubernemen[10].
Pada tanggal 18 Desember 1921, Muhammadiyah sudah dapat mendirikan pondok Muhammadiyah sebagai sekolah pendidikan guru agama. Dalam sekolah tersebut, pelajaran umum diberikan oleh dua orang guru dari sekolah pendidikan guru (kweekschool), sedangkan Ahmad Dahlan dan beberapa guru lainnya memberikan peajaran agama yang lebih mendalam.
Melihat kegiatan ini, nampak Muhammadiyah mengikuti pola yang sama dengan kegiatan yang dilakukan Abdullah Ahmad di Padang. Persamaan tersebut terlihat dalam hal-hal berikut: Pertama, adalah kegiatan tabligh, yaitu pengajaran agama kepada kelompok orang dewasa dalam satu kursus yang teratur. Kedua, mendirikan sekolah dewasa menurut model pendidikan gubernemen dengan ditambah beberapa jam pelajaran agama per minggu. Ketiga, untuk membantu kader organisasi dan guru-guru agama, didirikan pondok Muhammadiyah seperti Norma Islam di Padang pada tahun 1931.
Perkembangan sekolah Muhammadiyah mengalami “booming” setelah tahun 1921. Pada tahun itu pemerintahan mengeluarkan peraturan yang memperbolehkan pendirian cabang-cabang Muhammadiyah diluar Yogyakarta. Mengikuti diberlakukannya peraturan ini, Muhammadiyah melakukan rekontrukturisasi, di mana urusan-urusan sekolah yang sebelumnya ditangani oleh Ahmad Dahlan, kemudian ditangani oleh bagian sekolah. Sebagai dampak positif dari adanya lembaga ini, sekolah-sekolah baru terus dibangun. Pada tahun 1922 Muhammadiyah membangun HIS Met de Qur’an, yang tingkatnya setara dengan HIS peme
rintahan, tapi mengerjakan pendidikan Agama[11].
Diantara sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tertua dan besar jasanya dalam pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia adalah:
a.       Kweekschool Muhammadiyah di Yogyakarta
b.      Mu’allim Muhammadiyah di Solo dan Jakarta
c.       Mu’allim Muhammadiyah di Yogyakarta
d.      Zu’ama/Za’imat di Yogyakarta
e.       Kulliyah Muballighin/Muballighat di Padang Panjang Sumatera Tengah
f.       Tablighschool di Yogyakarta
g.      HIK Muhammadiyah di Yogyakarta[12].
Melihat perkembangan pendidikannya, ternyata Muhammadiyah berhasil melanjutkan model pembaharuan pendidikan disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa ia menghadapi lingkungan sosial yang terbatas pada pegawai, guru maupun pedagang di kota. Kelompok menengah di kota dalam banyak hal merupakan latar belakang sosial yang dominan dalam Muhammadiyah hingga sekarang ini.                                                                                                       
                Ada banyak hal yang menjadikan K.H. Ahmad Dahlan sebagai pembaharu di antaranya yaitu:
     1.      Melakukan purifikasi ajaran Islam dari khufarat, takhayyul, dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam, dan mengajak umat Islam untuk keluar dari jaring pemikiran tradisional melalui interprestasi terhadap dotrin Islam dalam rumusan dan penjelasan yang di terima oleh rasio.
     2.      Usaha dan jasanya mengubah dan membetulkan arah kiblat yang tidak tepat menurut mestinya. Umumnya masjid-masjid dan langgar di Yogyakarta menghadap timur dan orang-orang shalat menghadap kearah barat lurus.                     
     3.      Berdasarkan perhitungan astronominya, K.H. Ahmad Dahlan menyatakan bahwa hari raya Idul Fitri yang bersamaan dengan hari ulang tahun sultan,, harus dirayakan sehari sebelum lebih awal dari yang diputuskan para Ulama”mapan”.
    4.      Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam di pesantren popular, bukan saja di pesantren, melainkan ia pergi ke tempat –tempat lain dan mendatangi berbagai golongan. K.H. Ahmad Dahlan adalah bapak Muballigh di Jawa Tengah.
      5.      Mendirikan perkumpulan Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia sampai sekarang.
      6.      Sebuah Refleksi dan Kritik Realita Sekolah-Sekolah Muhammadiyah saat ini.
Kontinuitas dan perubahan merupakan dua ciri yang menonjol dari perkembangan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20. Kontinuitas mewujudkan diri dalam kecenderungan Kaum Muslim: 1. Melestarikan kepercayaan dan praktek (keagamaan),yang sebagian besar tidak diterima di daerah tertentu; dan 2. Membatasi Islam dalam bentuk ritual dan tidak menginspirasikan dalam kehidupan sosial, kultural dan material.


                                   
BAB III
PENUTUP
   A. Kesimpulan
Nama lengkap Ahmad Dahlan yaitu Muhammad Darwis bin K.H. Abu Bakar Bin Kiai Sulaiman, beliau akrab dipanggil dengan sebutan Ahmad Dahlan, beliau lahir pada tahun 1869 M di Kauman, Yogyakarta. Ahmad Dahlan lahir dilingkungan keluarga yang berpendidikan agama dan hidup sederhana, beliau adalah tokoh pendiri organisasi Muhammadiyah.  Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar bin K.H. Sulaiman, yaitu seorang Khatib di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta, Darwis hidup dalam lingkungan yang tenteram dan masyarakat yang sejahtera.  Ibunya bernama Siti Aminah binti K.H. Ibrahim seorang penghulu kesultanan di Yogyakarta.
Pemikiran Dahlan yang demikian merupakan respon pragmatis terhadap kondisi ekonomi umat Islam yang tidak menguntungkan di Indonesia, karena berada dibawah kolonialisme Belanda. Umat Islam tertinggal secara ekonomi karena tidak memilki akses dan sektor-sektor pemerintahan atau perusahaan swasta. Situasi ini menjadi perhatian Ahmad Dahlan yang berusaha memperbaharui sistem pendidikan.
  B. Saran
            Setelah  dipaparkan pembahasan pada konsep pendidikan Islam  persepektif K.H. Ahmad Dahlan ini, mungkin dari pembahasan yang disajikan ada ketidak cocokan dengan yang pada kenyataannya atau dari sumber referensi  lainnya, kami mengharap kritik dan saran dari pembaca ataupun sekaligus dari  dosen.

DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin. Pemikiran Pendidikan Islam Dan Barat. Jakarta: PT. RajaGrafindo     Persada. 2012.
Siswanto. Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam. Surabaya: CV. Salsabila Putra Pratama. 2015.
Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press. 2002.
Nugraha, Adi. Biografi Singkat. Jogyakarta: PT. Ar-ruzz Media. 2009.


[1]Adi Nugraha, Filsafat Pendidikan Islam, Biografi Singkat (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2009), hlm. 17 
[2] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam (Surabaya: CV. Salsabila Putra Pratama, 2015), hlm. 185
[3] Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 120
[4] Ibid, hlm. 123
[5] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta:  Ciputat Press, 2002), hlm. 88
[6] Siswanto, Filsafat Dan Pemikiran Pendidikan Islam (Surabaya: CV. Salsabila Putra Pratama, 2015), hlm. 186-187
[7] Abudin Nata, Tokoh tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: RajaGrafindo   Persada, 2005), hlm. 102
[8] Ibid. hlm. 1
[9] Siswanto, Filsafat Dan Pemikiran Pendidikan Islam (Surabaya: CV. Salsabila Putra Pratama, 2015),  hlm. 188
[10] Ibid, hlm. 254
[11] Nata, Tokoh-tokoh Pembaharuan, hlm. 105
[12] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm 218

No comments:

Post a Comment