Selamat Datang di Blog Kami. Blog ini meyediakan berbagai macam informasi seputar Pendidikan, Karya Tulis Ilmiah,Dan lain-lain. Membangun Indonesia Melalui Pendidikan

Analisis Aksiologis dalam Pendidikan Islam

Untuk Mendapatkan File Makalah atau Artikel dibawah ini, Silahkan Klik Download! download
Aksiologis dalam Pendidikan Islam, Aksiologi merupakan cabang filsafat yang berbicara tentang nilai (what is the value). Nilai dapat diartikan sebagai sesuatu yang berharga, berkualitas, bermakna dan bertujuan bagi kehidupan manusia, baik individu maupun klompok. 
Aksiologi membahas tentang hakikat nilai, yang didalamnya meliputi baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan. Pendidikan islam diorientasikan pada upaya menciptakan suatu kpribadian yang mantap dan dinamis, mandiri dan kreatif sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan pada seluruh komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan islam.

      A.    Hakikat Nilai
Mutahhari mengemukakan bahwa nilai adalah konsepsi abstrak didalam diri manusia atau masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap baik dan benar dan hal-hal yang dianggap buruk dan salah. Di samping itu, ada kecenderungan alami didalam diri manusia ke arah kebenaran dan wujud suci tertentu, yangjuga bisa berkembang lebih jauh.
Nilai bersifat ideal, abstrak, dan tidak dapat disentuh oleh panca indera, sedangkan yang dapat ditangkap hanya barang atau tingkah laku yang mengandung nilai tersebut. nilai juga bukan fakta yang membentuk kenyataa dan konkrit. Oleh karena itu,masalah nilai bukan soal benar atau salah, tetapi soal dikehendaki atau tidak, disenangi atau tidak, sehingga bersifat subjektif. Nilai-nilai tidak mungkin diuji, dan ukurannya terletak pada diri yang menilai. Konfigurasi nilai dapat berwujud kebenaran yakni nilai logika yang memberi kepuasan rasa intelek, atau berwujud kegunaan diperoleh dari suatu barang.
Nilai buka semata-mata untuk memenuhi dorongan intelek dan keinginan manusia. Nilai justru berfungsi untuk membimbing dan membina manusia supaya menjadi lebih luhur, lebih matang sesuai dengan martabat human-dignity. Sedangkan human-dignity adalah tujuan itu sendiri, tujuan dan cita-cita manusia.

      B.     Sumber Nilai dalam Kehidupan Manusia
Nilai merupakan standar tingkah laku, keindahan, keadilan, dan efisiensi yang mengikat manusia dan sepatutnya dijalankan serta dipertahankan.
Demikian pula nilai-nilai islam yang menjadi kumpuln prinsip hidup, ajaran-ajaran tentang bagaimana seharusnya manusia menjalankan kehidupannya diduniaa ini, yang satu prinsip dengan lainnya terkait membentuk satu kesatuan yang utuh dan tidak
dapat dipisahkan.
Sumber nilai yang berlaku dalam pranata sosial kehidupan manusia dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:

1.      Nilai Ilahiyah
Nilai ilahiyah merupakan nilai yang dititahkan tuhan melalui para rasul-Nya, yang membentuk taqwa,iman dan adil yang diabadikan dalam wahyu ilahi. Nilai-nilai yang fundamental mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat serta tidak berkecenderungan untuk merubah mengikuti selera bahwa nafsu manusia dan berubah sesuai dengan tuntutan perubahan sosial dan tuntutan individual. Konfigurasi dari nilai-nilai ilahiyah mungkin berubah, namun secara instrinsiknya tetap tidak berubah. Hal ini karena bila instrinsik nilai tersebut berubah, maka kewahyuan dari sumber nilai yang berupa kitab suci al-quran akan mengalami kerusakan.

2.      Nilai Insaniyah
Nilai insaniyah tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai ini bersifat dinamis. Sedangkan keberlakuan dan kebenarannya relatif (nisbi) yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Nilai-nilai insaniyah yang kemudian melembaga menjadi tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya karena kecenderungan tradisi tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan tata nilai, kenyataan ikatan-ikatan tradisional sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia.
Nilai ilahiyah dalam aspek teologi tak pernah mengalami perubahan, sedangkan aspek amaliahnya mungkin mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan zaman dan lingkungan. Sebaliknya nilai insaniyah selamanya mengalami perkembangan dan perubahan menuju ke arah yang lebih maju dan lebih tinggi. Tugas pendidikan adalah memadukan nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama secara selektif, inovatif, dan akomodatif guna mendinamisasikan perkembangan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan, tanpa meninggalkan nilai fundamental yang menjadi tolak ukur bagi nilai-nialainbaru.

      C.     Nilai dan Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan islam adalah rangkaian proses yang sistematis, terencana dan komprehensif dalam upaya mentransfer nilai-nilai kepada anak didik, mengembangkan potensi yang ada pada diri anak didik, sehingga mampu melaksanakan tugas kekhalifahan di muka bumi dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan nilai-nilai ilahiyah yang didasarkan pada ajaran agama pada semua dimensi kehidupannya.
            Nilai-nilai ideal itu mempengaruhi dan mewarnai pola kepribadian manusia, sehingga menggejala dalam perilaku lahiriahnya. Dengan kata lain, perilaku lahiriyah adalah cermin yang memproyeksikan nilai-nilai ideal yang telah mengacu didalam jiwa manusia sebagai produk dari proses pendidikan.
            Oleh karena itu, jika kita membahas nilai-nilai pendidikan, akan jelas melalui rumusan dan uraian tentang tujuan pendidikan, sebab didalam rumusan tujuan pendidikan itu tersimpul dari semua nilai pendidikan yang hendak diwujudkan didalam pribadi peserta didik. Demikian pula, jika berbicara tentang tujuan pendidikan islam, berarti berbicara nilai-nilai ideal yang bercorak islam. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan islam adalah tujuan yang merealisasi idealitas islami. Sedangkan idealitas islami itu sendiri pula hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai olh iman dan taqwa kepada allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.
            Dalam kaitannya dengan pendidikan islam, perumusan tujuan pendidikan harus berorientasi setidaknya pada emapat aspek yaitu:
1.      Berorientasi pada tujuan dan tugasbpokok manusia.
2.      Berorientasi pada sifat dasar (nature) manusia.
3.      Berorientasi pada tuntutan masyarakat dan zaman.
4.      Berorientasi pada kehidupan ideal islam.
Secara lebih rinci, Ahmadi membagi tujuan pendidikan islam pada 3 aspek: pertama, tujuan tertinggi: tujuan yang bersifat mutlak dan universal, yaitu tujuan yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. Kedua, tujuan umum, yaitu tujuan pendidikan islam yang berkaitan dengan perubahan sikap, perilaku, dan kepribadian anak didik, sehingga mampu menghadirkan diri sebagai suatu kepribadian yang utuh. Ketiga, tujuan khusus adalah tujuan pendidikn islam yang dijabarkan dari tujuan tertinggi dan tujuan umum. Tujuan ini dapat dirumuskan secara kondisional dan situasional namun harus tetap berdasar kepada tujuan tertinggi dan tujuan umum. Dengan kata lain tujuan ini adalah penjabaran dari tujuan tertinggi dan tujuan umum berdasarkan karakteristik, visi dan misi lembaga pendidikan.

      D.    Implikasi Sistem Nilai dalam Proses Pendidikan Islam
Sistem nilai mempunyai relasi timbal balik terhadap proses pendidikan. Dari perbuatan mendidik, dapat diketahui bahwa nilai-nilai kependidikan terjelma secara langsung atau tidak langsung dalam setiap keputusan yang diambil oleh pendidik. Nilai-nilai tersebut berhubungan dengan proses dan tujuan pendidikan dari berbagai aspek, seperti dengan isi kurikulum, tujuan pengajaran berbagai mata pelajaran dan dimensi pendidikan lainnya. Hubungan yang erat antara nilai dan perbuatan mendidik tampak lebih jelas ketika nilaiitu dilihat dari tujuan pendidikan.
            Maka dari itu, pendidikan islam brtugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan keberlangsungan fungsi nilai-nilai islam yang bersumber dari al-quran dan al-hadist. Dunia pendidikan islam hendaknya menjadikan nilai-nilai estetika sebagai patokan penting dalam proses pengembangan pendidikan yakni dengan menggunakan pendekatan estetis, yakni setiap persoalan pendidikan islam dapat dilihat dari perspektif berbagai pihak. Ini berarti pendidikan islam diorietasikan pada upaya menciptakan suatu kepribadian yang kreatif, berseni sesuai dengan islam, sehingga pendidikan islam tetap memiliki keunggulan dan kekhasan yang senantiasa berkesinambungan hingga akhir zaman.
  
ANALISIS AKSIOLOGI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Aksiologi secara etimologis berasal dari bahasa yunani , terdiri dari dua kata yakni “Aksios” yang berarti nilai dan kata “logos” yang berarti ilmu/teori.
Jadi aksiologis adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang mempelajari dari teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh, aksiologi pendidikan islam berkaitan dengan nilai-nilai, tujuan dan target yang akan dicapai dalam pendidikan islam. Jadi aksiologi itu merupakan cabangnya filsafat yang berbicara tentang nilai atau tentang hakikat nilai yang didalamnya itu meliputi baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuannya bagi kehidupan manusia.
Pendidikan islam merupakan pendidikan yang berlandaskan atas dasar-dasar ajaran islam, yakni al-quran dan hadist sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat islam. Melalui pendidikan inilah, kita dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran islam sesuai dengan ketentuan alquran dan as-sunnah. Sehubungan dengan hal tersebut, tingkat pemahaman, penghayatan, dan pengamalan kita terhadap ajaran islam sangat tergantung pada tingkat kualitas pendidikan islam yang kita terima. Implikasi aksiologi dalam dunia pendidikan itu adalah menguji dan mengintegrasikan nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan membinakannya dalam kepribadian peserta didik. Memang untuk menjelaskan apakah yang baik itu, benar, buruk dan jahat bukankah sesuatu yang mudah. Apalagi, baik, benar, dan buruk, dalam arti mendalam dimaksudkan untuk membina kepribadian ideal anak, jelas merupakan tugas utama pendidikan. Pendidikan harus memberikan pemahaman/pengertian baik, benar, bagus, buruk dan sejenisnya kepada peserta didik secara komprehensif dalam arti dilihat dari segi etika, estetika dan nilai sosial.dalam masyarakat, nilai-nilai itu terintegrasi dan saling berinteraksi. Nilai-nilai didalam rumah tangga/keluarga, tetangga, kota, negara adalah nilai-nilai yang tak mungkin diabaikan dunia pendidikan bahkan sebaliknya harus mendapat perhatian.
Aksiologi pendidikan islam berkaitan dengan nilai-nilai, tujuan, dan target yang akan dicapai dalam pendidikan islam. Sedangkan tujuan pendidikan islam adalah untuk mewujudkan manusia yang shaleh,taat beribadah dan gemar beramal untuk tujuan akherat. Nilai-nilai tersebut harus dimuat dalam kurikulum pendidikan islam diantaranya.
     1.      Mengandung petunjuk akhlak
     2.      Mengandung upaya meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di bumi dan kebahagian di akherat.
     3.      Mengandung usaha keras untuk meraih kehidupan yang baik.

Dan demikian bagi mereka nilai-nilai intrinsik yang terkandung didalamnya seperti kehormatan dan keberanian, maka dari itu nilai berasal dari maha pencipta bukan dari manusia.